Minggu, 27 Maret 2011

Kumpulan Puisi

PAHLAWAN TAK DIKENAL
Oleh: Toto Sudarto Bachtiar
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
(Siasat Th IX, No. 442 1955)

KEDAMAIAN

Hidup damai itulah
Yang banyak di tunggu-tunggu 
Oleh setiap orang                                                     
Baik dalam menjalin hubungan dengan sesama
Maupun dalam membina
Suatu rumah tangga

Kita sangat mengginginkan
Hal itu dapat terjadi
Dalam kehidupan kita
Namun,apa yang selama ini kita perbuat
Kita tidak pernah sama sekali
Menghendaki agar hal itu dapat terjadi

Berbagai permasalahan
Selalu saja terjadi
Segala perselisihan,pertengkaran
Selalu saja terjadi dalam kehidupan kita

Jalinlah hubungan yang sangat erat
Dalam masyarakat disekitar kita
Dengan begitu kita dapat saling percaya
Dan saling mengasihi antara sesama kita

Mulai dari sinilah
kita akan dapat merasakan
Suasana damai dalam kehidupan kita
Yang kita rasakan secara nyata.




                                                                                        By: Uni


Pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang

 Pertempuran  5 hari  5 malam di Palembang 

Pertempuran  5 hari 5 malam di Palembang berlangsung tanggal 1 sampai 6 Januari 1947.
Perang ini terjadi dalam rangka agresi militer Blanda I, dimana Belanda menduduki Palmbang  dengan tujuan ingin  menguasi objek vital minyak  Plaju dan sei Gerong.
Sehubungan dengan pendudukan Belanda atas Palembang tersebut, pada tanggal 1 Januari 1947 diadakan prundingan antara Belanda dan rakyat Palembang. Sewaktu perundingan tengah berlangsung, meletuslah pertempuran sampai pada tgl 6 Januari 1947. Pertempuran sengit terjadi di benteng pertahanan benteng Kuto Besak  Berkat perlawanan gigih rakyat  Palembang akhirnya kedua belah pihak mengadakan gencatan senjata dan akhirnya Belanda meninggalkan Palembang.

 

Pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang

Palembang merupakan kota yang sangat strategis di Sumatera Selatan. Sebagai kota tua, Palembang banyak menyimpan sejarah perjuangan rakyat. Keberadaan Palembang yang dibagi oleh Sungai Musi menambah eksotismenya. Ciri khas kota Palembang sebagai kota yang sangat didominasi oleh air, bahkan oleh Belanda sebelum Perang Dunia II, pernah dipromosikan sebagai “Venetie van het Verre Oasten” atau “Venesia dari Timur Jauh”. Kekayaan alam Sumatera Selatan menjadi kebanggaan sekaligus ancaman dari bangsa asing.

Setelah Perang Dunia II, Sekutu memboncengi NICA ke Indonesia dengan maksud agar Belanda dapat kembali menguasai Indonesia. Konflik RI dan Belanda semakin menimbulkan ketegangan. Para pasukan RI, lasykar dan rakyat berusaha mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai pada 17 Agustus 1945. Usaha untuk mencapai kepentingan Belanda berlanjut dengan pertempuran besar. Pertempuran besar yang menentukan antara lain Bandung Lautan Api, Pertempuran Ambarawa, Medan Area, Puputan Margarana dan lain-lain. Di Sumatera Selatan pun terjadi pertempuran besar yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang. pertempuran ini terjadi pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.

Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang pertama kali kita alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik, ekonomi dan militer. Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju serta Sei Gerong. Selain itu, dapat pula me- manfaatkan Palembang sebagai pusat perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Pasukan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan–pasukan yang berada di luar kota. Oleh karena itu, jika Belanda berhasil menguasai Kota Palembang secara total, maka akan mempermudah gerakan operasi militer mereka ke daerah-daerah pedalaman.

Peranan rakyat sangat besar dalam pertempuran Lima Hari Lima Malam. Motivasi perjuangan rakyat Indonesia umumnya dan khususnya para pejuang di daerah Sumatera Selatan yakni adanya “sense to be a nation”, rasa harga diri sebagai suatu bangsa yang telah merdeka. Semboyan “Merdeka atau Mati” yang berkumandang semasa periode Perang Kemerdekaan adalah wujud usaha untuk menjaga agar tetap berdirinya Negara Republik Indonesia.

Provokasi Belanda

Daerah Keresidenan Palembang pada masa-masa menjelang Pertempuran Lima Hari Lima Malam memiliki keunikan tersendiri, bila dibandingkan dengan daerah-daerah Indonesia lainnya yang telah diduduki oleh Sekutu (NICA), seperti Medan, Padang, Jakarta, Bandung, dan lain-lainnya, yang masih terdapat pemerintahan RI lengkap dengan pasukan, karena keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh kepala pemerintahan setempat. Setelah Belanda menggantikan Inggris di Palembang pada 24 Oktober 1946, Kolonel Mollinger menjadi Komandan territorial Belanda untuk Sumatera Selatan (Palembang, Lampung, Bangka, dan Jambi). Penyerahan pendudukan Inggris kepada Belanda berlangsung pada 7 November 1946. Setelah menggantikan Inggris, Belanda menuntut garis demarkasi yang lebih jauh. Untuk mencegah timbulnya insiden dilakukanlah perundingan antara pihak Belanda dan RI pada tanggal November 1946.

Hal terpenting dari perundingan itu antara lain tentara Belanda tidak akan memperluas atau melewati batas daerah yang diserahkan kepadanya oleh Inggris dan akan memelihara status quo. Sementara itu di Palembang mulai dilakukan pengembangan kekuatan militer oleh Pasukan TRI sedangkan, pihak Belanda giat menyusun posisi dan memperkuat pasukannya di Palembang.

Pada bulan Desember 1946, pihak Belanda telah menyusun pasukan-pasukannya di Kota Palembang dan sekitarnya. Kapal-kapal perang Belanda mulai melakukan pencegahan terhadap lalu lintas pelayaran antara Palembang – Lampung – Jambi – Singapura, yang bertujuan untuk mengadakan blokade ekonomi dan militer. Blokade bertujuan agar hubungan timbal balik antara Jambi, Lampung, Palembang dan Singapura terputus sehingga hasil bumi, barang kebutuhan hidup dan senjata tidak dapat diimpor dan diselundupkan dari Singapura. Dr. A.K. Gani melakukan kegiatan menembus blokade tersebut untuk memperkuat perjuangan sehingga dia dijuluki “The biggest smuggler of South East”.

Panglima Komando Sumatera, Jenderal Mayor Suharjo Harjowardoyo mengeluarkan Perintah Harian lewat corong Radio Republik Indonesia di Palembang pada akhir Desember 1946 yang ditujukan kepada pasukan-pasukan RI di daerah pendudukan Belanda di Medan, Padang dan terutama yang di Palembang untuk selalu siap siaga dan waspada menunggu instruksi dari pemerintahan pusat.

Pada tanggal 28 Desember 1946, seorang anggota Lasykar Napindo bernama Nungcik ditembak mati karena melewati pos pasukan Belanda di Benteng. Malam harinya Belanda melanggar garis demarkasi yang telah ditentukan. Dua buah Jeep yang dikendarai oleh pasukan Belanda dari Talang Semut melewati Jalan Merdeka, Jalan Tengkuruk (sekarang Jalan Sudirman), Rumah Sakit Charitas sambil melepaskan tembakan-tembakan secara membabibuta. Pancingan itu segera mendapat jawaban dari pasukan RI. Meletuslah pertempuran yang berlangsung sekitar 13 jam lamanya. Setelah terjadinya perang sekitar 13 jam, situasi Palembang dalam kondisi cease fire. Insiden ini menunjukkan akan meletusnya perang yang lebih besar, karena Belanda berusaha meningkatkan pertahanannya.

Penghentian tembak-menembak tersebut tidaklah berlangsung lama, Belanda kembali melanggar kesepakatan pada 29 Desember 1946, berupa terjadinya penembakan terhadap Letnan Satu A. Riva’i, Komandan Datasemen Divisi Dua, yang mengendarai sepeda motor Harley Davidson saat sedang melakukan inspeksi kepada pasukan-pasukan dan pos-pos pertahanan TRI-Subkoss/ Lasykar. Ketika melintas di depan Charitas, ia ditembak dengan senjata otomatis oleh pasukan belanda yang berada di Charitas. Letnan Satu A. Riva’i berhasil menyelamatkan diri walaupun tembakan itu tepat mengenai perutnya.

Provokasi Belanda terus terjadi pada 31 Desember 1946 menyebabkan insiden dengan pihak TRI yang sifatnya sporadis. Belanda melakukan konvoi dari Talang Semut menuju arah Jalan Jenderal Sudirman. Mobil tersebut melaju dengan kencang dan melepaskan tembakan-tembakan. Kontak senjata tidak terelakkan di depan Masjid Agung dan sekitar rumah penjara Jalan Merdeka. Pasukan TRI melakukan pengepungan dan serangan terhadap kekuatan Belanda di Charitas sehingga tidak mungkin Belanda untuk keluar dan meneriman bantuan dari luar. Akhirnya Belanda meminta bantuan Panglima Divisi II (Kol. Hasan Kasim) dan Gubernur Sumatera Selatan (dr. M. Isa) untuk penghentian tembak-menembak (cease fire).

Tujuan dilakukan penghentian tembak-menembak bagi Belanda adalah untuk menyusun kembali kekuatan tempurnya. Sebelum Belanda melakukan serangan udara itu memakan waktu yang relatif singkat, yaitu beberapa jam sebelum matahari terbenam menjelang malam. Belanda melakukan penembakan dengan mortir ke tempat dimana Pasukan TRI/ Lasykar berada yaitu di Gedung Perjuangan (sekarang Pusat Perbelanjaan Bandung), di daerah dekat Sungai Jeruju, daerah Tangga Buntung dan sebagainya. Dengan demikian telah berakhir kesepakatan penghentian tembak-menembak oleh Belanda.

Insiden-insiden yang terjadi pada akhir tahun 1949 tersebut menjadikan situasi di Kota Palembang dan sekitarnya menjadi panas (Perwiranegara, 1987 : 58). Insiden yang terjadi sesungguhnya adalah cara Belanda untuk memicu keributan dengan tujuan agar terjadi pertempuran yang lebih besar.

Pada hari Rabu, tanggal 1 Januari 1947, sekitar pukul 05.30 pagi, sebuah kendaraan Jeep yang berisi pasukan Belanda keluar dari Benteng dengan kecepatan tinggi. Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Ternyata mereka mabuk setelah pesta semalam suntuk merayakan datangnya tahun baru. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Efendi) lalu menuju Sayangan, kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas pasukan RI/ Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15 dan markas Polisi Tentara.

Pada kesempatan yang sama para pemimpin milter dan lasykar mengadakan rapat komando untuk menentukan sikap dalam menghadapi provokasi Belanda. Rapat dihadiri pimpinan pemerintah sipil Gubernur Muda M. Isa. Dalam rapat tersebut, Panglima Divisi II Kolonel Bambang Utoyo, Gubernur Muda M. Isa maupun Panglima Lasykar 17 Agustus, Kolonel Husin Achmad menyatakan bahwa dalam menghadapi provokasi Belanda, pihak RI bertindak tidak lagi sekedar membalas serangan, melainkan harus berinisiatif untuk menggempur semua kedudukan dan posisi pertahanan Belanda di seluruh sektor. Kepala staf Divisi II, Kapten Alamsyah, mengeluarkan perintah “Siap dan Maju” untuk bertempur menghadapi Belanda.


Front Pertempuran Lima Hari Lima Malam

Front Seberang Ilir Timur


Front Seberang Ilir Timur meliputi kawasan mulai dari Tengkuruk sampai RS. Charitas – Lorong Pagar Alam – Jalan Talang Betutu – 16 Ilir – Kepandean – Sungai Jeruju – Boom Baru – Kenten. Pertempuran pertama terjadi pada hari Rabu tanggal 1 Januari 1947. Belanda melancarkan serangan dan tembakan yang terus menerus diarahkan ke lokasi pasukan RI yang ada di sekitar RS. Charitas. RS. Charitas berada di tempat yang strategis karena berada di atas bukit sehingga menjadi basis pertahanan yang baik bagi Belanda. Daerah Front Seberang Ilir (RS. Charitas) menjadi tanggung jawab dari Komandan Resimen Mayor Dani Effendi. Basis strategi pertahanan di Front Seberang Ilir Timur terutama berlokasi di depan Masjid Agung, simpang tiga Candi Walang, Pasar Lingkis (sekarang Pasar Cinde), Lorong Candi Angkoso dan di Jalan Ophir (sekarang Lapangan Hatta).

Dibawah pimpinan Mayor Dani Effendi, Pasukan TRI melancarkan serangan ke Rumah Sakit Charitas dan daerah di Talang Betutu. Serangan ini dilakukan bersama dengan satu kompi dan batalyon Kapten Animan Akhyat yang bertahan di simpang Jalan Talang Betutu (Perwiranegara, 1987 : 67). Tujuan serangan ini adalah untuk memblokir bantuan Belanda yang datang dari arah Lapangan Udara Talang Betutu menuju arah Palembang dan untuk menghalangi hubungan antara pusat pertahanan Belanda di RS. Charitas dengan Benteng.

Pada sore harinya, pihak Belanda telah mengerahkan pasukan tank dan panser untuk menerobos pertahanan dan barikade Pasukan TRI di sepanjang Jalan Tengkuruk. Mereka kemudian berhasil menduduki Kantor Pos dan Kantor Telepon melalui perlawanan seru dari Pasukan TRI. Dengan berhasilnya Belanda menduduki kantor Telepon, maka hubungan melalui alat komunikasi menjadi terputus secara total. Setelah itu, Belanda memperluas gerakannya hingga menduduki Kantor Residen dan Kantor Walikota. Pasukan TRI yang berada di daerah tersebut mengundurkan diri ke Jalan Kebon Duku dan Jalan Kepandean sedangkan di RS. Charitas, kekuatan Belanda semakin terdesak karena serangan dari Pasukan TRI.

Pada pertempuran hari kedua, konsentrasi pasukan terutama diarahkan terhadap pasukan dan pertahanan Belanda di RS. Charitas. Namun, Belanda berhasil menerobos lini Talang Betutu setelah terlebih dahulu berhadapan dengan Lettu Wahid Uddin bersama Kapten Animan Achyat. Belanda telah memperkuat tempat-tempat yang telah mereka kuasai, terutama di depan Masjid Agung. Sementara itu, kapal-kapal perang (korvet) Belanda mulai bergerak hilir mudik di Sungai Musi sambil menembakkan peluru mortirnya ke segala arah. Secara spontanitas, rakyat dan pemuda di dalam kota dan luar kota turut serta bertempur melawan Belanda. Mobilisasi umum di kalangan masyarakat agraris-tradisional terus berlangsung untuk menghadapi Belanda. Melihat kemajuan-kemajuan di pihak kita, Belanda pun segera mengadakan pengintaian, bahkan melakukan tembakan dari udara terhadap kereta api yang membawa bahan makanan, bantuan dari Baturaja, Lubuk Linggau dan Lahat, Rakyat yang berada di Front Seberang Ilir menjadi sangat menderita karena keterbatasan kesediaan pangan akibat Sungai Musi dikuasai Belanda dan penembakan kereta api.

Oleh karena lokasi Markas Besar Staf Komando Divisi II tidak lagi aman, maka dipindahkan dari Sungai Jeruju ke daerah Kenten, tepatnya di Jalan Duku. Hal ini disebabkan karena Belanda terus-menerus melakukan pengintaian dan pengeboman terhadap markas-markas Pasukan TRI/ Lasykar. Keberhasilan pengeboman jarak jauh yang dilakukan oleh Belanda tidak terlepas dari peranan para pengintai atau mata-mata.

Ternyata dalam pemeriksaan dan interogerasi yang dilaksanakan, memberi banyak petunjuk bahwa pihak Belanda secara licik menggunakan warga kota keturunan Tionghoa sebagai informan mereka, disamping sebagai pelayan kegiatan ekonomi bagi kepentingan Belanda. Kapten Alamsyah Ratu Perwiranegara menilai bahwa kasus mata-mata ini sangat sensitif, ia segera memerintahkan Letnan Dua Asmuni Nas untuk merazia dan menyita semua telepon yang digunakan oleh keturunan Tionghoa di sepanjang Pasar 16 Ilir.

Pertempuran ketiga berlangsung pada hari Jum’at, tanggal 3 Januari 1947. Saat itu, Kolonel Mollinger memerintahkan angkatan perangnya (Darat, Laut dan Udara) untuk menghancurkan semua garis pertahanan Pasukan TRI/ Lasykar. Ini menunjukkan terjadinya konsep perang tiga matra yang dilakukan Belanda di Palembang.

Berdasarkan perintah tersebut, maka konvoi kendaraan berlapis baja keluar dari Benteng menuju RS. Charitas menerobos Jalan Tengkuruk, melepaskan tembakan di sekitar Masjid Agung dan Markas BPRI. Gerakan penerobosan Belanda ke Charitas itu dihambat oleh pasukan kita yang berada di Pasar Cinde dengan ranjau-ranjau, namun gagal karena ranjau-ranjau tersebut gagal meledak. Akibatnya Pasar Lingkis (Cinde) dapat dikuasai oleh musuh. Tapi, sore harinya pasar itu dapat dikuasai kembali oleh pasukan kita (Resimen XVII). senjata dan amunisi yang dimiliki pasukan RI jumlahnya terbatas, dan sebagian besar senjata yang digunakan oleh pasukan kita banyak yang telah tua (out of date) sebagai hasil rampasan dari serdadu Jepang (Abdullah, 1996 : 43). Sampai hari ketiga, keadaan Palembang sebenarnya sudah parah. Hampir seperlima kota telah hancur terkena serangan bom dan peluru mortir Belanda.

Kehancuran Kota Palembang karena bom-bom Belanda tersebut ditambah lagi dengan adanya aksi bumi hangus, seperti jembatan kayu di 24 Ilir, atas perintah Kepala Pertahanan Divisi II, Kapten Alamsyah. Pembongkaran ini dimaksudkan agar jembatan tidak digunakan oleh Belanda untuk menerobos dari arah Bukit Kecil menuju Charitas. Bahkan, perintah yang benar-benar ditakuti oleh Belanda adalah “aksi bumi hangus Plaju dan Sungai Gerong”.

Pada pertempuran keempat (4 Januari 1947), Belanda memfokuskan pertahanan di Plaju. Sehingga pasukan Mayor Dani Effendi berhasil memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai Charitas dan sekitarnya. Akibatnya pasukan Belanda mulai terdesak. Pasukan TRI berhasil mendekati gudang amunisi di RS. Charitas dan menembak serdadu Belanda yang berusaha mendekati gudang tersebut.

Pada 5 januari 1947, pihak Belanda dapat menguasai beberapa tempat dengan bantuan kapal-kapal perang yang hilir mudik di Sungai Musi dan pesawat terbang yang menjatuhkan bom-bom ke arah posisi Pasukan TRI. Namun demikian pasukan Belanda mengalami keadaan yang sama dengan Pasukan TRI yaitu letih, kurang tidur dan merasa stress, sedangkan Pasukan TRI telah banyak menderita kerugian baik dari materi ataupun yang gugur dan luka-luka.

Front Seberang Ilir Barat
Front Seberang Ilir Barat meliputi kawasan mulai dari 36 Ilir yaitu meliputi Tangga Buntung – Talang – Bukit Besar – Talang Semut – Talang Kerangga – Emma Laan – Sungai Tawar – Sekanak – Benteng.

Markas Batalyon 32 Resimen XV Divisi II dipimpin Makmun Murod yang berada di Front Seberang Ilir Barat, yaitu di Sekanak. Komandan Resimen XV dan Komandan Batalyon 32/XV beserta para perwira yang berada di markas, sibuk mengatur pertahanan dan merencanakan untuk menyerang benteng-benteng pertahanan Belanda. Suara tembakan yang saling bersahutan sudah semakin gencar diselingi oleh dentuman senjata-senjata berat yang ditembakkan dari pos-pos dan gedung-gedung pertahanan Belanda ke arah kubu pertahanan Pasukan TRI dan barisan pertahanan rakyat.

Pada pertempuran yang terjadi pada tanggal 1 Januari 1947, pasukan-pasukan disekitar belakang Benteng mulai terdesak lalu mengundurkan diri ke sekitar Jalan Kelurahan Madu dan Jalan Kebon Duku. TRI/ Lasykar yang berlokasi di Bukit terpaksa mengubah taktik yaitu memencarkan diri masuk ke kampung-kampung di sekitar Bukit Siguntang dan sekitarnya. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah pasukan Belanda yang akan menerobos ke 35 Ilir. Karena apabila pasukan Belanda yang akan beroperasi di 36 Ilir, Suro, 29 Ilir dan Sekanak akan terkepung. Usaha Pasukan TRI dibawah pimpinan Mayor Surbi Bustan dilakukan untuk menyerang Gedung BPM Handelszaken. Serangan ini dibantu oleh Kapten Makmun Murod, Letnan Satu Asnawi Mangkualam dan Kapten Riyacudu. Dalam pertempuran tersebut, seorang prajurit yang diketahui pemuda keturunan Tionghoa, Sing, tertembak dan gugur. Belanda dengan menggunakan kendaraan berlapis baja dan persenjataan modern berhasil menguasai Kantor Pos, Kantor Telegraf, Kantor Residen, Kantor Walikota dan disekitar Jalan Guru-guru di 19 Ilir.

Secara keseluruhan, pertempuran pada hari pertama tersebut, inisiatif sepenuhnya berada di tangan Pasukan TRI dan pejuang. Belanda dengan segala kemampuannya berusaha mempertahankan pos-pos pertahanan dan kedudukannya sambil terus melancarkan tembakan-tembakan ke arah pasukan yang menyerang. Pasukan Belanda boleh dikatakan tidak berani keluar dari kubu pertahanannya, terutama yang berkedudukan di Seberang Ilir, karena gencarnya serangan Pasukan TRI dan Lasykar. Pasukan Belanda hanya membalas tembakan dari tempat

perlindungan, dengan memuntahkan peluru mortir dan dengan tembakan howitzer untuk sasaran jarak jauh.

Belanda menerapkan sistem pertahanan saling dukung antar pos-pos mereka. Jika satu tempat pertahanan terkepung oleh Pasukan TRI, maka dalam waktu singkat akan mendapat bantuan dari kubu pertahanan Belanda lainnya. Bantuan sering berupa tembakan, mortir atau howitzer atau dukungan tembakan dari kapal perang De Ruiter. Kapal Belanda memang hilir mudik di sungai Musi, khususnya jenis korvet.

Pada pertempuran hari kedua, Belanda menembakkan mortirnya dengan membabibuta ke arah Sekanak sampai ke Tangga Buntung. Tujuan utama adalah menembaki markas batalyon dan pos-pos pertahanan TRI dan rakyat yang terdapat antara Sekanak sampai Tangga Buntung. Tidak dapat dihindari lagi peluru tersebut telah mengenai daerah pemukiman penduduk. Gencarnya tembakan yang dilakukan Belanda dari benteng pertahanann dan yang dilakukan Belanda dari benteng pertahanan dan pesawat udara pada 2 Januari 1947 menyebabkan staf Komando Batalyon 32/ XV oleh Mayor Zurbi Bustan bersama Kapten Makmun Murod dipindahkan ke Talang. Daerah Suro dan Talang Kerangga pada saat itu tidak luput dari sasaran musuh.

Dengan dorongan semangat dan do’a, Pasukan TRI tetap berusaha untuk mempertahankan diri. Penambahan pasukan terjadi melalui bantuan Batalyon Ismail Husin dari Lampung yang berhasil menyeberang melalui Tangga Buntung. Rakyat atau penduduk sipil pun ikut serta memberi bantuan tenaga.keterbatasan senjata tidak membuat pasukan kita menyerah. “Molotov” adalah bensin yang dimasukkan yang dimasukkan ke dalam botol dicampur dengan karet untuk kemudian diberi sumbu menjadi alat yang sangat efisien. Kapten Alamsjah memerintahkan Sersan Mayor M. Amin Suhud untuk mencuri persediaan bensin Belanda yang akan digunakan untuk membuat bom molotov. Sersan Mayor M. Amin Suhud berhasil mendapatkan bensin d markas Kesulitan bahan makanan dialami oleh Front Seberang Ilir Barat karena blokade yang dilakukan oleh Belanda. Dalam kondisi demikian, bantuan bahan makanan dari dapur umum di garis belakang yang dikirimkan oleh ibu-ibu dan remaja puteri sangat berarti. Begitu pula peran anggota Palang Merah Indonesia (PMI) dan PPI (Pemuda Putri Indonesia) yang mengurus korban pertempuran dan mengurus bahan makanan.

Pada hari ketiga, pertempuran tiga matra yang dilakukan oleh Belanda semakin aktif, setelah dikeluarkan perintah oleh Kolonel Mollinger untuk menghancurkan garis pertahanan RI di Emma Laan (Jalan Kartini) dan Sekolah MULO Talang Semut. Pasukan TRI dibawah pimpinan Letda Ali Usman berhasil menghancurkan sekitar 3 regu Pasukan Belanda yaitu Pasukan Gajah Merah (Perwiranegara, 1987 : 75). Belanda tidak tinggal diam, segera membalas serangan di Emma Laan. Sehingga pada pertempuran hari keempat, Satbtu tanggal 4 Januari 1947, Pasukan TRI/ Lasykar terdesak sehingga mundur ke arah Kebo Gede, Talang dan Tangga Buntung.

Sebagai resiko perjuangan dari bangsa yang baru merdeka, maka setiap gerakan pasukan musuh berakibat pada pemindahan dislokasi pasukan. Walaupun situasi pertempuran selalu dilaporkan kepada komando pertempuran. Namun laporan tersebut mengalami keterlambatan akibat sulitnya hubungan komunikasi.

Pada hari kelima pertempuran di Front Seberang Ilir Barat terus berlangsung, walaupun Pasukan TRI/ Lasykar dan rakyat mulai menampakkan keletihan dan pengiriman makanan dari dapur umum mulai tidak teratur lagi akibat blokade Belanda. Sebenarnya blokade ini juga berdampak pada pihak Belanda juga karena bahan makanan dari luar kota sulit masuk ke Kota Palembang.

3. Front Seberang Ulu

Front Seberang Ulu meliputi kawasan mulai dari 1 Ulu Kertapati sampai Bagus Kuning, selanjutnya meliputi kawasan Plaju – Simpang Kayu Agung – Sungai Gerong. Untuk tanggung jawab pertahanan dan keamanan di daerah Palembang Ulu dibebankan kepada Batalyon 34 Resimen XV dengan Komandan Batalyon Kapten Raden Mas yang bermarkas di sekolah Cina 7 Ulu (sekarang SHD), yang melakukan perlawanan di Kertapati sampai Plaju.

Pada awal pertempuran taanggal 1 Januari 1947, tembakan mortir dari pasukan Belanda yang berada di Bagus Kuning, Plaju dan Sungai Gerong terus ditujukan ke markas batalyon yang dipimpin Kapten Raden Mas. Namun demikian, kapal perang Belanda yang berada di Boom Plaju atau Sungai Gerong belum dapat bergerak leluasa, karena dihambat oleh pasukan ALRI di Boom Baru.

Lokasi di perairan Sungai Musi sebelum pertempuran merupakan salah satu tempat berlangsungnya aktivitas perekonomian. Namun ini berbeda pada hari pertama pertempuran. Motorboat milik Belanda melaju dari arah Plaju menuju Boom Yetty yang diduga membawa bahan persenjataan pasukan Belanda, Pasukan TRI berusaha menyerang namun tidak berhasil.

Kompi I yang berkedudukan di Jalan Bakaran Plaju, dipimpin Lettu Abdullah di Jalan kayu Agung dan Sungai Bakung diberi tugas untuk menghadapi Belanda. Begitu juga Kompi II yang dipimpin Letda. Sumaji bertugas menghadapi Belanda di Bagus Kuning dan Sriguna sedangkan Kompi II dibawah pimpinan Letda Z. Anwar Lizano bertugas menghadapi Belanda di pinggir Sungai Musi yang letaknya sejajar dengan Boom Yetty sampai Pasar 16 Ilir. Pertempuran yang telah terjadi menimbulkan semangat patriotisme di kalangan Pasukan TRI. Bantuan pasukan segera menuju Palembang. Letkol Harun Sohar telah melepaskan pemberangkatan pasukannya menuju Kertapati dan Lahat dengan menggunakan kereta api.

Kelelahan pasukan Belanda dimanfaatkan oleh Letnan Dua S. Sumaji yang merencanakan serbuan dini hari, pada tanggal 2 Januari 1947. Pasukannya dibantu dari Lasykar Pesindo, Napindo dan Hizbullah. Penyerbuan tersebut membuahkan hasil. Pasukan TRI/ Lasykar dapat menguasai gudang-gudang persenjataan musuh. Dalam pendudukan tersebut, TRI berhasil merampas persenjataan musuh sedangkan pasukan Belanda mengundurkan diri ke kapal-kapal perang mereka. Bendera Belanda si tiga warna yang terpancang di depan asrama telah diturunkan, kemudian dirobek warna birunya dan dinaikkan kembali dalam keadaan si Dwiwarna, Sang Saka Merah Putih. Namun kemenangan ini tidak berlangsung lama pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan-tembakan mortir ke arah kedudukan Pasukan TRI/ Lasykar.

Setelah Komandan Mollinger mengeluarkan perintah kepada seluruh unsur kekuatan darat, laut dan udara. Belanda untuk meningkatkan gempuran dan berusaha menerobos setiap garis pertahanan TRI dan badan-badan perjuangan rakyat. Pesawat-pesawat terbang dan kapal-kapal perang Belanda semakin menggiatkan aksinya, terutama di daerah-daerah yang menjadi tempat bertahan pasukan-Pasukan TRI yang berada di Seberang Ulu dan Ilir. Kapal perang jenis korvet menembakkan mesin ke sepanjang Sungai Musi terutama di pos-pos pertahanan RI, terutama yang berlokasi di sekitar 7 Ulu.

Akibatnya Pasukan TRI dan Lasykar terpaksa membalas dengan menggunakan senjata bekas persenjataan Jepang, yaitu meriam pantai milik Kompi III Batalyon 34 di 7 Ulu di tepi Sungai Musi. Dengan menggunakan senjata seperti itu, pasukan Hisbullah dibawah pimpinan Letkol (Lasykar) M. Ali Thoyib berhasil menembak sebuah motorboat Belanda yang sedang mengangkat amunisi milik Belanda dari Plaju menuju ke Benteng. Serangan terhadap motorboat Belanda mengakibatkan kemarahan pasukan Belanda. Mereka membalas dengan mengirim pesawat Mustang dan secara terus-menerus menghujani basis pasukan di 7 Ulu dengan tembakan bertubi-tubi selama dua jam. Hal ini menimbulkan korban yang besar di kalangan Pasukan TRI/ Lasykar dan rakyat. Bantuan terhadap pasukan di Front Seberang Ulu datang dari Lahat dan Baturaja dikirim ke Bagus Kuning.

Pada tanggal 4 Januari 1947 di Front Seberang Ulu pasukan Belanda semakin memperhebat tekanannya terhadap pasukan RI sehingga pasukan TRI yang berada di Bagus Kuning mengundurkan diri ke 16 Ulu. Kapal-kapal perang Belanda melakukan patroli mulai dari perairan Sungai Gerong di bagian Hilir sampai ke perairan Kertapati Keramasan di bagian Hulu. Pada hari kelima, tanggal 5 Januari 1947, pasukan kita dalam keadaan lelah, sekalipun hal itu tidak mengendorkan semangat perjuangan

Upaya Perundingan dan Pengakhiran Pertempuran

Sejak tanggal 4 Januari 1947 di Kota Palembang telah menerima kedatangan Kapten A.M. Thalib, utusan Panglima Divisi II Bambang Utoyo, yang mengabarkan tentang keinginan Mollinger untuk berunding. Ternyata Gubernur Muda telah menerima berita dari Jakarta lewat telegram yang diterima oleh pemancar darurat dibawah pimpinan Herry Salim, bahwa akan datang ke Palembang secepatnya Dokter Adnan Kapau Gani sebagai utusan pemerintah pusat untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan pihak Belanda.

Perundingan yang dilakukan oleh pihak RI dikarenakan ada kepentingan strategis dengan alasan, pertama, mencegah korban lebih banyak; kedua, kita perlu mengadakan konsolidasi kekuatan kembali; ketiga, dari segi politis akan membelikan gambaran kepada dunia internasional bahwa RI cinta perdamaian, sekaligus menegaskan bahwa pemerintah pusatnya dipatuhi oleh daerah-daerah.

Perhitungan yang melandasi untuk berunding dari pihak RI adalah berdasarkan :

Pertama, perjuangan kemerdekaan akan memakan waktu cukup lama, mungkin bertahun-tahun.

Kedua, hampir 60% pasukan RI di Sumatera Selatan berada di Kota Palembang, bila sampai bertempur habis-habisan akan memperlemah kekuatan pada masa selanjutnya.

Setelah itu, ditetapkan tiga orang delegasi yang akan melakukan penjajakan perundingan. Mereka adalah dr. M. Isa, Gubernur Muda Sumatera Selatan yang mewakili Pemerintahan Sipil; Mayor M. Rasyad Nawawi, Kepala Staf Divisi Garuda II yang mewakili pasukan-pasukan dari Komando Pertempuran dan Komisaris Besar Polisi Mursoda, yang mewakili Kepolisian (Parikesit, 1995 : 69).

Perundingan antara RI – Belanda dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 1947 di Rumah Sakit Charitas. Formasi delegasi pun ditambah dengan Kolonel Bambang Utoyo, Komandan Divisi Garuda II, yang ditunjuk sebagai Ketua dan Mayor Laut A.R. Saroingsong. Pertemuan dengan pihak Belanda sebenarnya telah mereka nanti-nantikan, sebab posisi Belanda benar-benar terjepit dan belum bisa mengadakan link up. Mereka masih terkurung dalam kubu per kubu yang terpisah satu sama lainnya

Dalam perundingan tersebut pihak Belanda menuntut Kota palembang dikosongkan dari seluruh Pasukan TRI. Namun hal itu ditolak oleh delegasi RI. Pihak RI bersedia menarik TRI dan Lasykar dari kota, tapi ALRI, Kepolisian dan Pemerintahan Sipil tetap berada di dalam kota. Dengan alasan bahwa ALRI tidak mempunyai hubungan dengan Angkatan Darat. Adapun maksud tersembunyi adalah pasukan ALRI yang tinggal di kota Palembang akan menjadi penghubung dan mata-mata, disamping polisi dan Pemerintahan Sipil, guna mengawasi kegiatan Belanda.

Akhirnya pertempuran Lima Hari Lima Malam diakhiri dengan gencatan senjata (cease fire) antara kedua belah pihak, dimana TRI/ lasykar harus keluar dari Kota Palembang sejauh 20 Kilometer kecuali Pemerintahan Sipil RI dan ALRI masih tetap berada di dalam kota. Sedangkan pos-pos Belanda hanya boleh sejauh 14 km dari pusat kota. Jalan raya di dalam kota dijaga pasukan Belanda dengan rentang wilayah 3 km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.

Kesimpulan

Pertempuran Lima Hari Lima Malam merupakan upaya yang dilakukan oleh Pasukan TRI, lasykar dan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan di Kota Palembang. Dalam pertempuran itu, pihak lawan menguasai udara dan perairan (air and sea superioritary). Karena superioritas itulah mereka dapat bertahan dan disinilah pula terletak kelemahan kita serta tidak mempunyai perhubungan yang modern.

Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan pertempuran tiga matra dan perang terbesar dan terlengkap yang pertama kali kita alami. Namun pihak kita hingga akhir pertempuran masih dapat bertahan berkat semangat pengorbanan jiwa, jihad dan patriotisme yang besar dari para pejuang dan rakyat.

Asal Usul Danau Toba


Babak I
Intro: Musik Dangdut mengiringi masuknya Toba, si anak Yatim Piatu yang tinggal di sebelah utara Pulau Sumatera yang sangat kering dengan peralatan pancingnya. Intro diakhiri dengan musik dangdut yang berkolaborasi dengan musik pop.
1.Toba: (dengan logat batak)” Halo, Penonton. Apa kabarnya? Baik – baik sajakah? Aku ke sini mau memancing ikan. Doakan aku ya!!” (setelah menunggu kira – kira 3 jam) “Lihatlah, dari pagi aku menunggu ikan, tapi kenapa tidak ada yang tertarik dengan umpanku? Apa umpanku sudah ketinggalan zaman? Atau, sudah ada yang lebih up to date lagi dari umpanku? Perasaan, umpan ini adalah umpan yang paling up to date sekarang. Apa dewi fortuna belum mengiringi langkahku? Bagaimana aku bisa makan hari ini? Tuhan, tolonglah hambamu ini. ”
2.Toba: (mengayun tali pancing sambil melamun)
3.Toba: (ekspresi terkejut karena tiba – tiba tali pancing terasa berat) “Eh, penonton ikan apa yang tertarik dengan umpanku?”
4.Toba: “Wah, hari ini aku dapat ikan mas. Besar lagi. Cukup untuk dua hari kumakan. Para penonton, Bapak - bapak, Ibu - ibu, semua yang ada di sini, pasti kebagian ikan mas ini. Tenang saja.”(sambil mengusap ikan mas yang besar)
5.Musik dangdut dilantunkan, ikan tersebut berubah menjadi wanita berparas cantik dan anggun, dan Toba terkejut bercampur tidak percaya melihatnya?
6.Toba : “Putri dari mana kau? Dari kayangankah? Soalnya elok sekali paras kau.”
7.Putri : “Halo, penonton semua. Aku Putri. Aku dari kayangan. Aku yang punya sejarah yang suram. Dulu, saya pernah dikutuk oleh para dewa karena telah melanggar peraturan di kayangan dan telah tersurat jika saya tersentuh tangan maka saya akan berubah seperti makhluk yang menyentuh saya. Karena saya disentuh oleh manusia, maka saya menjadi manusia.”
8.Toba : “Panjang sekali cerita kau, tak mengerti aku. Ah! Sudahlah, kau pulang dulu ke rumahku nanti baru kau ceritakan ulang.”
9.Sesampainya di rumah Toba
10.Putri : “Ini rumah Abang? Berantakan sekali ya, Penonton!”
11.Toba: “Iyalah. Pasti kau kira rumahku itu bersih, aman, rapi, dan indah seperti julukan kota di seberang sana? Ya, beginilah kalau tinggal sendirian. Aku cuma di rumah itu malam hari. Sisanya, aku mengurusi ladang milik ayahku dan memancing.”
12.Putri : “Lho, ayah Aang kemana? Kenapa tidak kelihatan dari tadi?”
13Toba : Beliau sudah meninggal 3 tahun lalu, terus sebulan setelah ayahku meninggal ibuku menyusul. Eh, tapi sudahlah tak perlu kau pikirkan. Itu sudah berlalu.
14.Putri : Maaf, aku mengingatkan Abang dengan masa lalu. Ngomong – ngomong, nama Abang siapa?
15.Toba : “Aku, Toba. Kalau kau siapa? Eh, sebentar, katanya kau dari kayangan. Berarti kupanggil kau Putri saja. Lebih elok didengar orang kampung. Eh, tadi kau ngomong mau cerita lagi kenapa kau sampai bisa dikutuk jadi ikan mas. Ceritalah. Aku siap mendengar.”
16.Putri :”Ah! Sudahlah, tak perlu diingat lagi. Aku tak mau mengingat masa laluku. Tadi juga aku sudah berbagi dengan penonton dan Abang, tapi sepertinya Abang agak telat mikir. Yang penting sekarang, aku bisa menikmati rasanya menjadi seorang manusia.”
17.Toba: ”Ya, sudahlah kalau kau tak mau ceritera, yang penting penonton sudah tahu keluh-kesah kau. Biarlah aku tidak tahu.
18.Toba: ”Penonton, aku mau menyatakan cintaku dengan si Putri ya. Putri, jujur, aku jatuh cinta padamu. Paras kau yang elok dan anggun, tutur kata kau yang lembut, dan semuanya. Apa kau mau menikah denganku?”
19.Putri : “Baiklah. Aku bersedia. Tapi ada satu syarat. Biarkan penonton jadi saksi. Abang tidak boleh memberitahu bahwa aku berasal dari ikan dan saat kita punya anak nanti, abang tidak boleh menghinanya dengan sebutan anak ikan.”
20.Toba: “Kalau masalah itu kau tak perlu takut. Rahasia ini akan kujaga baik – baik. Mari, kau kukenalkan dengan orang kampung. Kujamin mereka terpesona melihat keanggunanmu. Penonton juga bisa memegang ucapanku ini.”
21.Toba: “Warga, ayo ke sini! Aku mau mengenalkan kalian dengan calon istriku yang berasal dari i……”
22.Warga kampung:”Toba, dari mana kau dapat wanita ini? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Kapan ketemunya? Apa dia tersesat?”
23.Toba: (dengan logat batak yang khas) “Dia kudapat dari desa sebelah. Katanya dia tersesat. Wah kalau kalian tanya bagaimana, panjang ceriteranya, aku sendiri sampai tidak mengerti bagaimana aku bisa bertemu dengan wanita berparas anggun ini. Aku salah satu orang yang lebih dari beruntung dapat menikahinya.”
Babak II
24.Toba dan Putri telah menikah dan Toba sudah pindah rumah.
25.Toba: (masih dengan logat batak yang kental) “Putri, terimakasih sekali, karena kau aku bisa tinggal di rumah moderen seperti ini. Tidak seperti rumahku yang dulu. Sekali lagi terimakasih, Putri. Penonton, aku sekarang jadi orang kaya yang bertempat tinggal di rumah moderen, walaupun sikapku masih kampungan. Maklum, aku lahir, besar, dan akan tua di kampung.”
26.Putri: “Abang, tidak perlu sungkan. Yang penting, sekarang kita bahagia. Iya, kan, Penonton?”
27.Toba: “Betul ‘kali kau.”
28.Putri: (mengerahkan kesaktian yang dimilikinya) “Abang, ini adalah pemberianku yang terakhir. Setelah ini, kesaktianku akan hilang. Dan, aku tidak bisa memberikanmu sesuatu yang berharga lagi. Pergunakan pemberianku yang terakhir ini dengan sebaik – baiknya. Penonton, kalian sudah melihat apa yang kuberikan pada suamiku. Selanjutnya, kuingin kalian memantau suamiku. Kalau dia nakal, lapor ke saya, biar saya lapor ke Pak RT.”
27.Toba:”Kau tak perlu takut. Aku pasti menggunakannya untuk hal – hal yang bermanfaat. Kau juga tak perlu ragu, aku tidak akan menyia – nyiakanmu, karena kau, aku bisa sukses. Kalau tidak ada kau, mungkin aku masih kerja sendirian di ladang sekarang. Penonton kalau nakalnya cuma sedikit, tak perlu dilaporkan. Nanti aku yang susah. Setuju?”
Babak III
29.Toba dan Putri dikaruniai bayi laki – laki yang lucu.
30.Toba:”Nang, ning, ning, nang, ning, nung. Putri, kau lihat anak kita lucu ‘kali.” “Penonton, lihat, aku sudah jadi bapak sekarang.”
31.Putri:”Iya, Bang. Ngomong – ngomong, anak kita dikasih nama apa, Bang? Abang masih telmi ya, Penonton, padahal sudah mau jadi ayah dari anakku”
32.Toba:”Anakku yang lucu, kuberi nama kau “Samosir”. Putri dan penonton, setuju?”
33.Putri:”Samosir, nama yang bagus. Cocok untuk anak kita, Bang.
34.Samosir:”Halo, penonton, aku Samosir, anak Pak Toba dan Bu Putri. Salam kenal!”
Babak IV
35.Anak itu tumbuh menjadi anak yang tampan, tetapi anak ini punya kebiasaan buruk, ia sering merasa lapar. Hal ini seringkali membuat Toba marah.
36.Toba: (berteriak sambil setengah marah)”Putri, kau tidak masak hari ini? Bagaimana kau ini? Tak malu kau dilihat penonton sebanyak ini. Kau juga tidak tahu aku lelah pulang kerja. Ternyata, sampai rumah aku harus marah lagi.”
37.Putri: “Maaf, Bang. Tadi Samosir merasa sangat lapar. Jadi, bekal buat Abang dimakan sama Samosir. Ini mau saya buatkan lagi bekal untuk Abang. Ditunggu ya, Bang.
38.Toba: (masih setengah marah) Ya, sudah kutunggu. Tapi, lain kali awas kau begitu.” “Mana si Samosir?” “Samosir, ke mana kau? Sudah kenyang kau makan, Nak? Enak kau makan jatah punya ayahmu ini? Kau, tahu ayahmu ini lelah, letih, dan lesu. Kau enak saja makan punya ayahmu ini.”
39.Samosir:”Maaf, Ayah. Tadi, Samosir sangat lapar. Jadi, Samosir makan punya ayah.”
40.Toba:”Ya sudah, ayah maafkan. Tapi kau janji lain kali, tidak boleh mengambil milik orang lain. Itu tidak lebih dari pencuri. Mengerti?”
41.Samosir:”Iya, Ayah. Samosir, janji.”
42.Toba:”Bagus.”
43.Hal ini berlangsung terus sampai akhrnya kesabaran Toba sudah melampaui batas
44.Toba: (dengan nada marah) “Samosir, apa yang waktu itu kau janjikan kepada aku? Kau melanggar janjimu. Sekarang, aku harus menghukummu.” “Kau tidak boleh tidur di rumah ini, sebelum kau bisa merubah tabiat burukmu itu.”
45.Putri: (sambil menangis)”Jangan, Bang!” “Samosir masih kecil, kalau Samosir sakit bagaimana, Bang? Apa Abang tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Samosir jika Abang melakukan ini. Samosir tak berdaya, Bang. Dia masih kecil.
46.Toba: (masih dengan nada marah) “Ini jadinya kalau anak ini terus dimanja. Dia selalu bertindak sesuka hati, tidak memikirkan orang lain. Kalian berdua sama saja.”
47.Putri: (dengan nada memelas) “Sekarang terserah pada Abang! Kalau Abang ingin menghukum Samosir. Silahkan! Tapi, Abang harus turuti permintaan saya. Saya minta Abang tidak mengusir Samosir dari rumah. Hanya itu permintaan saya.”
48.Toba: (marah agak mereda) “Samosir, karena ibumu yang meminta, Ayah tidak bisa menolak. Ayah tidak jadi mengusirmu. Tapi kau tetap harus menjalani hukumanmu.” “Selama seminggu, kau tidak kuizinkan tidur di kamar. Tempat tidurmu di gudang.” “Mengerti?”
49.Samosir: (sambil menangis) “Iya, Ayah. Samosir mengerti.”
50.Empat bulan berlalu, Samosir yang sudah bebas dari hukumannya, masih dengan kebiasaannya yang sering lapar. Kali ini, kemarahan Toba sudah memuncak.
51.Toba: (sangat marah) “Samosir, di mana kau?”
52.Samosir: “Aku di sini Ayah. Ada apa Ayah memanggilku?”
53.Toba: “Jangan banyak bertanya kau! Apakah kau makan lagi bekal untuk Ayah?”
54.Samosir: “Maaf, Ayah! Tadi, Samosir sangat lapar, terpaksa Samosir makan bekal Ayah?”
55.Toba: (menarik telinga Samosir sambil membawanya ke luar rumah) “Kau tahu Ayah dari mana? Kau tahu Ayah ini bekerja di ladang, Banting tulang. Kau seenaknya saja makan bekal Ayah. Sekali, dua kali sudah Ayah maafkan, tapi ini sudah berulang kali. Kau tahu itu bukan?
56.Samosir: (menangis) Maaf, Ayah! Samosir akan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan hokum Samosir lagi Ayah.
57.Toba: “Sudah! Tak ada lagi kata maaf buat anak nakal seperti kau!” “Dasar anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!!”
58. Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya di ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.
59.Putri: (terkejut mendengar cerita Samosir) Anakku, apakah kau berkata jujur? Apakah kau tidak membohongi Ibu?
60.Samosir: “Tidak, Bu. Apa benar aku ini anak ikan, Bu? Jawab, Bu!
61.Putri: “Sekarang, Ibu minta kau untuk tidak mempedulikan perkataan Ayahmu.” “Segeralah pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah kita dan kau harus memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu.”
62.Samosir: “Baik, Bu!”
63. Samosir segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit yang dimaksud ibunya dan mendakinya.
64. Ketika tampak oleh ibunya bahwa Samosir sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh dari rumah mereka itu.
65. Putri: (sambil berlari ke arah sungai) “Sudah tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Toba sudah berkhianat!”
66. Akhir cerita, Putri tiba di tepi sungai itu, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian, ia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba dan Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.